Kamis, 14 April 2016

Deradikalisasi Agama



Pendahuluan
A.    Latar Belakang.
Banyaknya sikap dan perilaku radikal dalam sebuah aksi protes, demostrasi hingga kekerasan fisik di Indonesia. Dimana pada kenyataanya mereka melakukan aksi kekerasan itu mengatasnamakan agama dalam setiap aksi mereka. Perilaku ini tidak mencerminkan apa yang sebenarnya dalam sebuah agama itu. Seharusnya mereka menjunjung tinggi apa yang sudah diajarkan dalam sebuah ajaran agama yang mereka yakini, bukannya melakukan penyimpangan yang mengatasnamakan+ agama. Perilaku radikal ini yang bermula dari sebuah forum yang berkembang menjadi sebuah komunitas ataupun organisasi yang mengatasnamakan agama dalam setiap aksi mereka yang terkadang bersifat anarkis.
Perubahan yang semula bermula dari sebuah organisasi keagamaan yang mulai bergeser kearah perilaku radikal ini sungguh sagat disayangkan. Seperti pada kelompok santoso yang menggemparkan Indonesia pada aksi mereka yang mengatasnamakan jihad penegakan syariat Islam dengan membuat aksi teror di Indonesia.Adapun sebuah aksi protes para demonstran yang menyerukan nama Tuhan mereka dalam aksi itu.
Mengatasnamakan agama dalam aksi kekerasan ini mengakibatkan timbulnya pemikiran negatif dari masyarakat. Bila pemikiran negatif ini terus berkembang, masyarakat akan semakin membeci suatu pihak itu. Dan jika hal itu terus dibiarkan, maka akan timbul sebuah konflik berkepanjangan antar anggota masyarakat. Bila sudah terjadinya sebuah konflik berkepanjangan suatu negara akan terpecah belah dan megakbitkan hilangnya sebuah negara.
Oleh sebab itu perlu dilakukannya sebuah penanggulangan agar tidak adanya paham radikal yang mengatasnamakan agama dalam setiap aksi kekerasan mereka. Perlu diajarkan pemahaman mengenai agama dan penanaman nilai moral sejak dini. Serta dengan cara cara pencegahan lainnya yang akan dibahas dalam makalah ini yang berjudul  “Mencegah Mengatasnamakan Agama Dalam Aksi Kekerasan Fisik di Indoesia “.
B.     Rumusan Masalah  
Apa pengertian Deradikalisasi Agama?
Apa faktor yang menyebabkan terjadinya deradikalisasi agama?
Bagaiamana cara menangkal terjadinya deradikalisasi agama?




ISI

1.      Pengertian Deradikalisasi Agama
Sebelum kita mengartikan apa itu deradikalisasi agama kita harus mengetahui apa itu deradikalisasi. Deradikalisasi merupakan berasal dari dua buah kata yaitu de dan radikal. Kata radikal berasal dari kata radix yang dalam bahasa Latin artinya akar. Dalam kamus besar bahasa Indoesia online, kata radikal memiliki arti: mendasar (sampai pada hal yang prinsip), sikap politik amat keras menuntut perubahan (undang-undang, pemerintahan), maju dalam berpikir dan bertindak.
Menurut beberapa pengertian diatas maka dapat kita jelaskan bahwa Radikalisme adalah suatu paham yang dibuat-buat oleh sekelompok orang yang menginginkan perubahan atau pembaharuan sosial dan politik secara drastis dengan menggunakan cara-cara kekerasan.
Adapun deradikalisasi adalah upaya membendung laju radikalisme[1]. karena gerakan radikalisme berorientasi pada arah kekerasan, peperang dan teror. Namun apa yang dimaksud dengan radikalisme islam?. Adapun disni berhubungan dengan doktrin fundamental yang dianut pemiliknya., bahkan menjadi ideologi yang berdiri kokoh. Meskipun demikian fundamental disini belum mengarah kepada radikalisme.
Ada beberapa istilah yang disematkankan kepada pemeluk islam, yang oleh Oliver Roy disebut Islamisme atau terlalu islam. Istilah tersebut adalah Islamisme atau fundamentalisme, revivalisme, radikalisme dan secara khususmucul istilah salafisme, wahabisme, serta beberapa sarjana menyebutnya Islam Transnasional.[2]
Disini terkait Islam Transnasional, Peter Mandaville mengatakan bahwa terdapat dua tipe Islam, sehingga layak disebut transnasional. Pertama merupakan kelompok dan gerakan Islam. Sementara kedua, adalah pemikiran dan ideologi.[3] Peredaran keduanya telah meembus batas-batas teritorial dan konstitusional suatu negara. Sementara jihad dan jihad global merupakan wacana yang berkembang disekitar Islam Transnasional.
Pengertian yang digaris bawahi disini bahwa radikalisme Islam disini memiliki doktrin dan ajaran yang dianggap sebagai keyakinan atau ketentuan yang harus dipenuhi sebagai hamba yang beriman.Dengan berlandaskan Teologi, yang mereka yakini mereka berusaha memperjuangkan seluruh aspek kehidupan sekalipun bersifat Iman, tauhid dan akidah.

Dapat disimpulkan deradikalisasi disini upaya untuk menghilangkan dimensi radikal yang ada dalam doktrin dan keyakinan mereka.konsekuensinya jauh lebih berat, karena deradikalisasi disini menghilangkan segala bentuk radikal dalam doktrin dan keyakinan yang ada pada mereka.

2.      Faktor penyebab terjadinya deradikalisasi agama
Sikap Radikalisme ini dilatarbelakangi oleh adanya kelemahan, baik pada bidang aqidah, syariah maupun perilaku. Sehingga sikap radikal  merupakan ekspresi dari tajdid (pembaruan yang bersifat pemurnian), islah (perbaikan), dan jihad (perang) yang dimaksudkan untuk mengembalikan muslim kepada ruh islam yang sebenarnya. Akan tetapi akar dari radikalisme saat ini sangat kompleks. Mubarak menyebutkan dua penyebab utama terjadinya radikalisme dikalangan muslim adalah faktor deprivasi relatif dan terjadinya disorientasi nilai-nilai yang diakibatkan modernisasi.[4] Gejala seperti pergeseran nilai-nilai lama yang akibatnya orang kehilangan pegangan dan perasaan dari berbagai bidang kehidupan. Disinilah orang akan mencari hal alternatif untuk menghilangkan kekosongan itu dimana pada ujung-ujungnya akan terpengaruh dengan sebuah doktrin.
Ancok menyatakan bahwa radikalisme dalam agama khususnya Islam terjadi disebabkan faktor ketidakadilan, baik prosedural, distributif maupun interaksional.[5]  Contohnya disini putusan-putusan pemerintah pada masa Orde Baru yang lebih condong kepemerintah tanpa melihat kepentingan rakyat. Seperti dalam hal kasus pemberian prioritas kepada keturunan Tionghoa untuk mengembangkan bisnis. Hal itu menyebabkan kesenjangan pribumi muslim dengan Tioghua non muslim. Hal itu menyebabkan terjadinya konfrontasi fisik. Selama periode itu tercatat 89 gereja dirusak dan sejumlah orang terbunuh.[6]    
Selain faktor sosial, radikalisasi  agama khususnya Islam juga melibatkan faktor agama. Faktor yang berlandaskan moral agama yang ada dalam kitab suci termasuki tradisi keagamaan yang berkembang dalam kelompok agama. Ajaran ini dijadikan landasan perilaku kekerasan yang pada umumnya adalah ajaran tentang misi dan hukuman bagi tuhan bagi siapa yang membangkang.
Dikatakan Carlson bahwa kitab suci kristiani dan yahudi memiliki banyak contoh tentang pengadilan balas dendam oleh manusia dan Tuhan, dan manusia mengatasnamakan Tuhan untuk melakukan penganiayaan.[7]  
Banyak sekali orang mengguakan seruan agama untuk melakukan tindak kekerasan dengan kecenderungan agresif dengan dalih melakukan dakwah, amar makruf, dan jihad
Mereka melakukan pembunuhan, pengeboman, perusakan tempat-tempat tertentu bahkan mereka melakukan semua aksi kekerasan itu seperti layaknya melakukan kebenaran.
Adapun disini faktor kepribadian juga ikut terlibat dalam terjadinya radikalisasi agama.Suseno menyatakan bahwa setiap orang yang sudah berada dalam mental terorisme, misalnya karena perasaan frustasi yang mendalam, karena sebuah perasaan tersinggung yang berlangsung lama atau karena kebingungan tantangan-tantangan modernisasi yang membongkar begitu banyak tradisi , kebiasaan,dan tatanan normatif yang pernah dijadikan andalannya.[8] Hal ini berkaitan dengan apa yang diyakini mereka bergeser kepada arah perasaan mereka. Dimana sebuah perasaan ini apabila sudah terjadinya sedikit rasa kekecewaan mengenai sesuatu, maka mereka akan mencari suatu hal baru untuk mengisi kekosongan hati mereka yang kebanyakan mengarah kepada doktrin-doktrin yang menyimpang dan kebanyakan mengarah pada aksi anarkis untuk membalas apa yang telah terjadi.
Berdasarkan uraian-Uraian diatas dapat kitas simpulkan bahwa munculnya radikalisme Islam dilatar belakangi beberapa faktor, meliputi:
1.      ekspresi dari tajdid (pembaruan yang bersifat pemurnian), islah (perbaikan), dan jihad (berjuang) untuk kebangkitan Islam dari keterpurukan.
2.      Perlakuan negara yang dirasakan sebagai ketidakadilan oleh masyarakat khususnya dalam kebijakan politik dan ekonomi.
3.      Dampak dari pemaknaan ajaran Islam tentang dakwah, amar makruf nahi mungkar, jihad dan semacamnya yang haya dimaknai secara eksklusif.  
4.      Pengaruh faktor pemicu yang dikeal dengan istilah provokasi.  
5.      Merupakan reaksi revolusioner terhadap modernisasi dan globalisasi. Modernisasi dan globalisasi dianggap telah memporak-porandakan nilai-nilai lama yang menyebabkan orang kehilangan pegangan yang kemudian melarikan diri dan mencari alternatif baru dan meemukan muaranya pada sebuah doktrin yang menawarkan totalitas kebenaran dan kepastian.
6.      Faktor kepribadia, yakni tipe-tipe psikologis rentan terhadap perilaku kekerasan misalnya mental terorisme.
Berdasarkan urain ini dapatditarik pemahaman bahwa banyak faktor yang melatarbelakangi munculnya radikalisme Agama khususnya di Indonesia, antara lain berhubungan dengan kondisi sosial yang dianggap sakit dan berhubungan dengan ajaran penyebaran ajaran agama yang ditafsir eksklusif . kedua faktor ini sering dijadikan alat untuk melakukan dasar pemikatan kepada simpatisan organisasi keagamaan sehingga dapat membangkitkan kemarahan respon terhadap adanya ketidakadilan yang kemudian membangkitkan respon keras untuk melawan ketidakadilan degan menggunakan legitimasi agama.      
3.      Cara-cara menangkal terjadinya deradikalisasi agama diIndonesia
Telah dibuktikan bahwa ajaran Islam bisa dimaknai moderat dan bisa dimaknai radikal karena pemaknaan agama dikonstruksikan secara sosial oleh seluruh tokoh dan pemeluk agama.hal tersebut menguatkan asumsi bahwa sekelompok orang yang terlibat dalam gerakan radikalisme mulai dari aksi demo, orasi hingga terorisme, telah diprovokasi oleh pihak-pihak tertentu degan tujuan tertentu. Menggunakan ajaran dari Islam yang dimaknai radikal. Dengan menyembunyikan ajaran-ajaran Islam yang bernuansa kasih sayang dan kedmaian.
Hal ini disebabkan masalah Radikalisme yang merupakan masalah cara berfikir yang erat kaitannya dengan dengan ilmu pengetahuan, maka pembahasan tentang mencegah dan menangkal radikalisme ini dipaparkan bagaimana mencegah dan menangkal radikalisme secara Individual dan secara kelembegaan.
            Mencegah dan menangkal radikalisme secara Individual  
                                    Oleh karenma radikalismeberdampak negatif pada manusia yang menimbulkan kerusakan maka setiap muslim punya kewajiban menyelamatkan diri, keluarga dan masyarakat dari bahaya radikalisme dengan berbagai cara. Antara lain:
1.      Belajar agama kepada ahli agama yang alim allamah
Bahwa dipahami apabila kita belajar harus cermat dalam memilih guru. Jika salah memilih guru maka akan mengarah kepada paham-paham radikal. Kaitan ini Rosulullah mengingatkan:
“Apabila sesuatu diserahkan kepada bukan ahlinya, maka tunggulah saat kehancurannya”  (H.R. Bukhari)
Sehingga disini kita harus memilih guru yang alim allamah yang sesuai dengan ajaran agama.dari pemilihan guru yang tepat disini maka sebuah sikap radikal yang mengatasnamakan agama dalam setiap aksi kekerasan bisa ditangkal kedalam setiap individu.
2.      Memahami ajaran agama secara utuh dan lengkap
Jika seseorang belajar kepada alim allamah, tentulah mendapatkan pemahaman agama yang yang memiliki sumber-sumber dari kitab yang otentik. Namun akan lebih baik jika belajar agama ini dilakukan secara tuntas dalam arti belajar dari beberapa ajaran agama sekaligus dengan masing-masing dari awal hingga selesai. Jika seseorang melakukan itu maka tidak akan tertipu dengan pandangan-pandangan radikal dan ekstrim yang diajarkan kelompok tertentu, dengan hafalnya suatu ayat atau hadits tertentu yang bisa menjadikan dasar penghalang paham radikal itu.   
3.      Usahakan memahami metodologi studi Islam
Upaya memahami ajaran agama secara proporsional akan diperoleh dengan memadai jika belajar agama lengkap dengan metodologi studi Islam seperti fiqih, ilmu tafsir dan sebagainya. Dengan seorang memahami metodologi studi Agama khususnya Islam maka akan mengetahui mana pandangan agama yang lebih kuat sehingga tidak mudah untuk diintervensi yang mengkalim pandangannya sendiri yang paling benar.
4.      Berdoa minta kepemahaman agama kepada Allah
Dengan memohon kepemahaman kepada Allah ketika berhadapan dengan ajaran-ajaran agama khususnya Islam merupakan tindakan bijaksana sebagai bentuk kerendahan hati seorang hamba Allah. Disini Allah akan memberikan kepemahaman agama yang mampu memilih ajaran yang haq dan batil.
Mencegah dan menangkal radikalisme secara kelembagaan
                        Selain hal-hal lain yang bisa dilakukan secara individual oleh setiap muslim dan mencegah radikalisme yang dilakukan secara kolektif dalam bentuk kelembagaan. Beberapa hal yang direkomendasikan menangkal dan mencegah radikalisme, antara lain meliputi :
1.      Dialog keagamaan tokoh-tokoh Islam
Dialog kagamaan merupakan cara yang bijak untuk membuka cakrawala dan wacana pemikiran agama. Melalui dialog keagamaan ini para tokoh yang berasal dari berbagai Ideologi, organisasi keagamaan dan sejenisnya ini akan mendapatkan sebuah pemahaman itu. Ketika para tokoh yang berasal dari berbagai ideologi atau kelompok mendapati kelemahan dan keterbatasan maka dengan penuh kesadaran merasa perlu melakukan dialog keagamaan dengan berbagai tokoh Islam untuk melakukan koreksi dan menimba ilmu lainnya. 
2.      Menyusun kamus ajaran Islam yang memicu radikalisme dan menyebarluaskannya
Dikarenakan salah satu penyebab munculnya radikalisme adalah pemaknaan konsep Islam, kafir, amar maruf dan jihad. Oleh sebab itu maka perlu adanya pihak yang melakukan penyusunan kamus ajaran agama yang dapat memicu radikalisme. Diperlukannya  penyusunan ini dikarenakan sebab konsep-konsep Islam menggunakan bahasa arab yang secara sistematis meiliki banyak makna. 
3.      Pendidikan memahami dan memahami dan mengamalkan ajaran Islam inklusif  
Dengan cara organisasi keagamaan inklusif maka akan akan saling menghormati dan bergandengan tangan untuk bersama-sama menangkal radikalisme. Organisasi sosial kegamaan mesti mensosialisasikan ajaran-ajaran kedamaian dan kasih sayang kepada selruh umat. Apabila seluruh rakyat bersatu maka akan terwujudnya kedamaian dan kurunan dibawah naungan negara kesatuan republik Indonesia.






















Penutup
Kesimpulan
Sikap dan perilaku radikal seperti aksi protes, demontrasi hingga kekerasan fisik di Indonesia, kenyataanya dilakukan oleh kaum santri dibawah organisasi keagamaan. Jika sikap ini dibiarkan maka akan timbul sebuah konflik  antar umat. Disininal perlu adanya penanaman pencegahan paham-paham radikal yang melalui cara individu maupun secara kelembagaan. Secara Individu melalui Belajar agama kepada ahli agama yang alim allamah, Memahami ajaran agama secara utuh dan lengkap, Usahakan memahami metodologi studi Islam serta Berdoa minta kepemahaman agama kepada Allah. Adapun scara kelembagaan cara pencegahan bisa melalui Dialog keagamaan tokoh-tokoh Islam, Menyusun kamus ajaran Islam yang memicu radikalisme dan menyebarluaskannya, dan Pendidikan memahami dan memahami dan mengamalkan ajaran Islam inklusif. Dengan penanam  pencegahan ini akan menjadikan mentalnya paham-paham radikal dari dalam setiap individu maupun  dalm konsep negara kesatuan republik Indonesia.   














Daftar Pustaka
Arifin, Syamsul. 2015. “Studi Islam Kontemporer”. Malang : Intrans Publising.
Nurjannah. 2013. “Radikal vs Moderat”. Yogyakarta : Aswaja Presindo.










[1] Syamsul Arifin, Studi Islam Kontemporer(malang: Intrans Publising), hal : 84
[2] Syamsul Arifin, Studi Islam Kontemporer(malang: Intrans Publising), hal : 85
[3] Syamsul Arifin, Studi Islam Kontemporer(malang: Intrans Publising), hal : 86
[4] Nurjannah, Radikal vs Moderat (Yogyakarta : Aswaja Presindo), Hal:10
[5] Nurjannah, Radikal vs Moderat (Yogyakarta : Aswaja Presindo), Hal:10
[6] Nurjannah, Radikal vs Moderat (Yogyakarta : Aswaja Presindo), Hal:11
[7] Nurjannah, Radikal vs Moderat (Yogyakarta : Aswaja Presindo), Hal:13
[8] Nurjannah, Radikal vs Moderat (Yogyakarta : Aswaja Presindo), hal :13